Mengapa Lahan Gambut di Indonesia Sering Terbakar? Ini Penjelasan Pakar IPB

Aprillia Ika
Kompas.com - Kamis, 18 Agustus 2016
Mengapa Lahan Gambut di Indonesia Sering Terbakar? Ini Penjelasan Pakar IPBAMRIZA NURSATRIA/KOMPAS.comKebakaran lahan gambut terjadi di sisi jalan lintas timur Palembang-Ogan Ilir Rabu siang menciptakan asap tebal membumbung tinggi ke udara

KUCHING, KOMPAS.com - Sejumlah pakar dari Institut Pertanian Bogor (IPB) memberikan analisisnya mengapa lahan gambut di Indonesia sering terbakar atau rusak. Para pakar mengatakan lahan gambut yang sering terbakar merupakan lahan yang terbuka, tidak ada yang menjaga, serta tidak memiliki nilai.

Hal ini dipaparkan oleh Dodik Ridho Nurrochmat, pakar kebijakan kehutanan IPB, pada konferensi pers di sela acara 15th International Peat Congress 2016 di Kuching, Sarawak, Malaysia, Kamis (18/6/2016).

"Kebakaran lahan gambut biasanya yang terbengkalai, atau yang tidak ada pengelolanya. Kalau lahan itu punya nilai, pasti sudah masuk ke Hutan Tanaman Indonesia (HTI). Jika sudah masuk HTI, sudah ada yang mengelola dan memiliki nilai, buat apa dibakar?" kata dia.

Lantas apa yang harus dilakukan?

Dodik mengatakan, ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi rusaknya lahan gambut akibat kebakaran. "pertama, hindari open access atau lahan terbengkalai. Kedua, berikan nilai ke lahan tersebut supaya tidak dibakar," kata Dodik.

Nah, untuk memberikan nilai ke lahan gambut tersebut diperlukan teknologi tepat guna. Dengan demikian lahan juga tidak lagi terbengkalai. Namun, apapun teknologi yang diterapkan untuk mengelola lahan gambut harus memperhatikan tiga hal.

Pertama, teknologi yang bisa diterima masyarakat atau socially acceptable. Kedua, secara ekonomi menguntungkan atau economically feasible. Ketiga, environmentally acceptable atau ramah lingkungan.

"Prosesnya jangan terbalik dan harus berurutan. Dengan demikian bisa diterapkan teknologi terbaik di suatu wilayah yang memberikan kemanfaatan terbaik," pungkas dia.

Regulasi, Edukasi dan Teknologi

Pakar Ilmu Tanah IPB Supiandi Sabiham, menambahkan, regulasi dan kebijakan pemerintah yang tidak tegas turut berkontribusi membuat lahan gambut sering terbakar. Pasalnya, kebijakan pemerintah dalam mencegah kebakaran lahan, terutama di area gambut, tidak dilakukan secara komprehensif dan tegas.

Selain itu, sebagian besar masyarakat di sekitar kawasan hutan yang terbakar, kurang mendapatkan edukasi tentang tata cara mengelola lahan gambut yang baik.

"Misalnya usaha perkebunan sawit, yang mana banyak pemain baru di industri sawit yang melakukan pembakaran lahan untuk melakukan penanaman sawit," kata Supiandi yang juga menjabat sebagai Ketua Himpunan Gambut Indonesia (HGI).

Berbeda dengan Malaysia, para pemain baru di usaha perkebunan sawit nyaris tidak ada. Para pelaku usaha dan petani di negeri jiran telah memiliki pengetahuan yang cukup dalam mengelola perkebunan sawit di lahan gambut.

"Di Malaysia tidak dilarang untuk membakar lahan. Tapi, bagaimana cara membakar lahan? Nah ini yang diatur dengan tegas dan jelas oleh pemerintah Malaysia hingga ke tingkat desa," kata Supiandi.

Supiandi menambahkan, mengelola kawasan gambut yang baik adalah dengan menerapkan water management. Tata kelola air yang baik mampu mempertahankan kelembaban lahan gambut serta menjaga cadangan air untuk tanaman. Ini juga yang dilakukan di Malaysia.

"Kenapa kebakaran hutan sering terjadi di lahan petani? karena mereka tidak punya cukup uang untuk mengelola lahan perkebunan yang baik," kata dia.

Berdasarkan data HGI, Indonesia memiliki 15 juta hektare lahan gambut. Dari jumlah itu, sekitar empat juta hektare terpakai untuk kegiatan produksi. Sedangkan empat juta hektare lainnya terdegradasi dan dua juta hektare lain masih berupa semak belukar dan sisanya hutan.

Kompas TV Titik Api Kebakaran Lahan Sulit Ditempuh

 

 

 

PenulisAprillia Ika
EditorAprillia Ika
Terkini Lainnya
DPR RI Komitmen Jaga Kelancaran Pelantikan Presiden dan Wakil Presiden
DPR RI Komitmen Jaga Kelancaran Pelantikan Presiden dan Wakil Presiden
DPR
Puan Ajak Elite Politik Saling Menghargai dan Menghormati untuk Rakyat
Puan Ajak Elite Politik Saling Menghargai dan Menghormati untuk Rakyat
DPR
Soal AKD, Puan Beri Kesempatan Fraksi untuk Bermusyawarah Mufakat
Soal AKD, Puan Beri Kesempatan Fraksi untuk Bermusyawarah Mufakat
DPR
Wakil Ketua DPR: Hukum Internasional Harus Lindungi Bangsa yang Lemah
Wakil Ketua DPR: Hukum Internasional Harus Lindungi Bangsa yang Lemah
DPR
Di Hari Parlemen Indonesia, Legislator Diingatkan Pegang Teguh Amanat Rakyat
Di Hari Parlemen Indonesia, Legislator Diingatkan Pegang Teguh Amanat Rakyat
DPR
Polda Metro Jaya: Tidak Ada Unjuk Rasa Menjelang Pelantikan Presiden
Polda Metro Jaya: Tidak Ada Unjuk Rasa Menjelang Pelantikan Presiden
DPR
DPR RI Siap Bersinergi dengan TNI-Polri Terkait Pelantikan Presiden
DPR RI Siap Bersinergi dengan TNI-Polri Terkait Pelantikan Presiden
DPR
30.000 Personel Disiagakan Menjelang Pelantikan Presiden dan Wapres
30.000 Personel Disiagakan Menjelang Pelantikan Presiden dan Wapres
DPR
DPR RI: Musim Penghujan Tiba, tapi Penyelesaian Karhutla Belum Rampung
DPR RI: Musim Penghujan Tiba, tapi Penyelesaian Karhutla Belum Rampung
DPR
DPR RI Persilahkan Masyarakat untuk Memberikan Aspirasinya
DPR RI Persilahkan Masyarakat untuk Memberikan Aspirasinya
DPR
DPR RI Tolak Rencana Pemerintah untuk Naikkan Iuran BPJS Kesehatan
DPR RI Tolak Rencana Pemerintah untuk Naikkan Iuran BPJS Kesehatan
DPR
Puan Minta Kinerja Manajemen BPJS Kesehatan Harus Diperbaiki
Puan Minta Kinerja Manajemen BPJS Kesehatan Harus Diperbaiki
DPR
Puan: Peristiwa Penusukan Wiranto Merupakan Bentuk Teror
Puan: Peristiwa Penusukan Wiranto Merupakan Bentuk Teror
DPR
Puan Berikan Semangat kepada TNI dan Polri Jelang Pelantikan Presiden
Puan Berikan Semangat kepada TNI dan Polri Jelang Pelantikan Presiden
DPR
Puan Telah Tetapkan Tugas Pokok dan Fungsi Pimpinan DPR RI
Puan Telah Tetapkan Tugas Pokok dan Fungsi Pimpinan DPR RI
DPR